Iklan-iklan pop up dan banner yang ditampilkan terkadang malah mengganggu audiens ketika sedang mengunjungi situs karena terlalu menutupi konten, tak jarang orang-orang memasang ad blocker untuk menghindari iklan yang sangat mengganggu, nampaknya mereka sudah mulai malas untuk terlalu ‘dibombardir’ oleh iklan. Lalu apa solusi untuk mengurangi iklan yang berpotensi mengganggu audiens? Anda bisa menggunaknan Native Ads. Anda belum mengetahuinya? Ardata akan menjelaskan kepada Anda tentang pengertian native ads hingga jenis-jenisnya kepada Anda.

 

Pengertian Native Advertising

Native Ads adalah konten berbayar di mana iklan yang ditampilkan mengikuti bentuk konten yang ada di platform yang ada. Dari bentuk desain, tata letak, hingga jenis huruf yang digunakan pun mirip dengan yang ada di platform. Ini berguna agar Native Ads tidak menggangu audiens dan terlihat lebih natural karena tampilannya bahkan seperti konten yang ada di platform. Cara membedakan native ads dengan konten yang sudah ada di paltform adalah dengan label “ads” atau “sponsored”. Tak hanya ditemui di website, native ads juga dapat muncul di media sosial seperti facebook, instagram, atau twitter.

 

Contoh-Contoh Native Ads

Berikut adalah beberapa contoh native ads dari website dan online marketplace.

 

  1. Native ads di situs theonion.com

native ads

 

  1. Native ads di situs yahoo.co.id

native ads

 

  1. Native ads dari Google Adsense

native ads

 

  1. Native ads dari Shopee

native ads

 

Jenis-Jenis Native Ads

Setelah Anda melihat contoh-contoh native ads, yang perlu Anda ketahui adalah jenis-jenis native ads, jenis native ads berikut ini yang memiliki fungsinya masing-masing. Anda bisa menerapkannya sesuai tujuan pemasaran Anda.

 

  1. Display Ads With Native Elements

Jenis iklan yang satu ini sering munculdi website. Bukan iklan yang aneh-aneh, tetapi iklan yang relevan dengan konten yang ada di platform. Iklan ini tidak akan mengganggu audiens karena tampak seperti konten organik.

  1. Promoted Listings

Ini kerap dijumpai pada situs belanja online. Anda pasti sering melihat daftar promosi ini saat mencari barang di marketplace. Misalnya Anda sedang mencari produk celana, nah di sini akan muncul beberapa produk serupa yang bersponsor dalam bentuk kategori. Sehingga terlihat seperti konten organik.

  1. Unit In-Feed

Jika Anda pernah menemui native ads di landing page media sosial, berarti itu adalah Unit In-Feed. Jenis native ads ini sangat user friendly karena konten iklan menyesuaikan konten yang ada di platform.

  1. Paid Search Units

Jenis iklan yang satu ini sudah pasti Anda sering melihatnya pada saat melakukan pencarian di google atau bing. Karena iklan ini muncul berupa hasil pencarian. Dan biasanya akan muncul di peringkat atas mesin pencarian dengan label Ad.

  1. Recommendation Widgets

Saat Anda membuka sebuah situs, pada bagian bawah terkadang ada rekomendasi konten yang berlabel sponsored atau Ad (silakan lihat pada contoh di atas nomor 1). Itu adalah jenis iklan native ads Recommendation Widgets. Jenis iklan Recommendation Widgets memudahkan Anda sebagai marketer dalam mendapatkan traffic dari website orang lain.

 

Cara Menggunakan Native Ads Pada Konten

  1. Hal yang pertama kali harus Anda lakukan adalah fokus terhadap inti konten yang dipromosikan. Penggunaan headline dan deskripsi haruslah sesuai. Jadi di dalam konten native ads yang singkat Anda bisa menyampaikan maksud Anda kepada Audiens. Selain itu, dengan memadukan tampilan visual yang ciamik, dapat dipastikan native ads akan terlihat apik dan menarik.
  2. Setelah Anda sudah mengetahui inti konten, Anda bisa memilih penggunaan bahasa yang tepat sesuai dengan target audiens Anda. Jika Anda menggunakan bahasa asing tetapi target Anda adalah orang Indonesia, maka hasilnya pun tidak akan optimal. Selain itu, gaya bahasa juga harus sesuai, pasti Anda sudah tahu bagaimana cara ‘berbicara’ kepada orang yang dengan usia yang berbeda-beda. Misalnya Anda memiliki target audiens yang berumur 40-45 tahun, tidak mungkin jika Anda akan menggunakan panggilan “Cuy”, dan lain-lain.
  3. Yang terakhir adalah arahan Call To Action, ini merupakan hal yang sangat krusial, mengapa? Karena jika native ads Anda tidak memiliki CTA, Anda akan kesulitan mendapatkan hasil dari tujuan Anda beriklan. CTA memudahkan audiens untuk melakukan tindakan yang ingin Anda maksud. Selain itu, CTA yang Anda pasang akan membantu meningkatkan conversion rate. Meskipun hanya terlihat tombol biasa, tetapi CTA memiliki peran yang cukup besar bagi native ads.

 

Setelah memahami artikel tentang native advertising ini, Apakah Anda tertarik untuk beriklan dengan native advertising? Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, Anda bisa menerapkan native advertising ini pada bisnis Anda. Karena tampilannya sangat user friendly, sehingga iklan Anda tidak menjadi korban plugin Ad blocker.

Continue Reading