Negara Indonesia pernah masuk dalam daftar negara dengan potensi pertumbuhan industri e-commerce yang baik, namun hal tersebut tidak membuat perjalanan industri ini berjalan mulus begitu saja. Dinamika fenomena tersebut tentu memiliki sebab. Anda sebagai pelaku industri tentu sangat perlu mengenali fenomena ini.

 

Sengitnya persaingan di industri e-commerce di Indonesia membuat banyak sekali peluang yang bisa terjadi. Tidak hanya positif namun tetap saja ada dampak negatif bagi beberapa kalanganan. Mengapa bisa terjadi demikian? Hal ini karena marketplace masih dikuasai oleh kalangan profesional atau pemodal besar dan belum merambah lebih jauh pada kalangan kecil macam UKM-UKM yang ada. Oleh sebab itu tidak bisa dipungkiri justru dengan berkembangnya e-commerce semakin memperpuruk UKM Indonesia. UKM semakin sulit bersaing karena masih terkungkung dengan masalah keterbatasan teknologi dan inovasi.

 

Kondisi semacam ini lah yang menggambarkan kebobrokan industri e-commerce di Indonesia. Namun jelasnya fenomena ini bukan berarti membuka toko di marketplace berarti menjadi buruk, hina, dan sebagainya. Karena faktanya situs jual beli daring alias marketplace macam Bukalapak dan Tokopedia bisa membantu memberikan banyak keuntungan bagi penjual di daerah, menjadi salah satu sumber pendapatan sampingan anak kuliahan bahkan menumbuhkan jumlah entrepreneur online.

 

Untuk pengusaha dari yang masih tergolong pemula atau mungkin ibu-ibu yang ingin menjajal jual beli daring menggunakan sistem e-commerce maka membuka toko online di marketplace akan sangat membantu. Disamping kendala pembayaran baik itu konsumen yang dilema, malas beli karena terkena charge lebih saat transaksi antar bank hingga masalah keamanan dan kepercayaan transaksi.

baca juga https://ardata.co.id/sop-admin-toko-online/

 

Disini lah marketplace alias situs jual beli seperti Bukalapak dan Tokopedia mengambil perannya. Nah maka peran jasa REKBER menjadi jembatan antara penjual dan pembeli yang masih merasa asing dan merasa kurang nyaman untuk bertransaksi tanpa bertemu. Mereka mengambil peran sebagai orang di percaya bisa diandalkan pembeli untuk menjaga transaksinya.

 

Disamping itu, ada segudang tantangan yang harus Anda hadapi jika harus bertarung dalam marketplace ini. Tantangan ini dapat menjadi perangkap mengerikan yang harus Anda lawan jika membuka toko online di marketplace. Berikut ini ada beberapa fenomena yang dapat mengganggu lancarnya bisnis Anda berjalan sebagai berikut:

 

1. Harb Al’asear (persaingan harga)

Industri E-commerce di Indonesia

 

Perang harga populer pula disebut dengan adu murah. Persoalan memang sudah tantangan umum bagi para pengusaha untuk bertarung di marketplace. Di marketplace ini lah harga terpampang jelas dan menjadi mahkota bagi penampilan yang menempel para suatu produk. Konsumen sangat price sensitive, meskipun ada saja pembeli yang nyangkut ke merchant dengan produk yang harganya lebih mahal tapi perbedaannya sangat ekstreem.

 

Hal ini ditambah lagi faktor branding yang tidak memiliki banyak pengaruh berarti terhadap penentuan harga. Mayoritas pembeli di marketplace cenderung memburu harga semurah mungkin. Ini tentu sejalan dengan strategi pertama mereka para pemilik marketplace yang membuat market place menjadi tempat tujuan utama untuk mencari barang dengan harga paling murah. Fenomena yang paling terlihat jelas adalah karena yang jual banyak, maka yang dilihat dari konsumen adalah harga termurah.

 

2. Anti Branding, Anti Loyal Customer

Industri E-commerce di Indonesia

 

Tuhu Nugraha (SEO upnormal pingfans) pernah mengatakan sebuah steatment bahwa toko-toko di marketplace akan saling beradu harga, service, bahkan bonus. Sehingga bagaimana reputasi suatu merchant tidak akan berdampak signifikan.

 

Hal tersebut sejalan dengan keberadaan para merchant di situs jual beli online atau daring. Dalam benak dan ingatan pembeli, eksistensi merchant akan tergantikan dengan nama marketplace, semisal Bukalapak atau Tokopedia. Lalu dimana posisi nama marchant Anda dalam ingatan konsumen? Mengapa tidak disebut?

 

Oleh sebab itu tidak heran jika konsumen sangat jarang yang cukup loyal untuk beli berulang kali di toko merchant yang sama. Bisa dikatan, ibarat pasar tanah abang, pembeli banyak yang tidak hapal nama tokonya. Mereka hanya sibuk membandingkan mana yang murah dan beli. Besok lagi datang ke pasar yang sama, bisa beli di merchant yang lain.

 

3. Tanpa Kontrol

Industri E-commerce di Indonesia

 

Pelaku bisnis tentu ingin memiliki kontrol penuh terhadap produknya. Kontrol yang dimaksud ini dapat Anda tandai dengan pertanyaan berikut ini. Seberapa banyaknya pengunjung ke toko online Anda? Barang mana yang tidak dilirik konsumen dan apa sebabnya? Promosi dari kanal mana yang paling efektif mendatangkan buyer?

 

Jawaban keleluasaan kontrol diatas tidak bisa didapat penuh, jika Anda membuka toko online di marketplace. Misalnya saja dalam hal promosi, Bukalapak maupun Tokopedia belum mensupport fitur Facebook Pixel, sehingga akan sulit bagi pebisnis untuk mendata konsumen yang datang ke tokonya dan pebisnis juga tidak bisa mentarget ulang pengunjung yang pernah datang.

 

Sederhananya Alurnya seperti ini, jika calon konsumen akan datang, lalu melihat lihat barang bahkan bertanya kemudian pergi. Tanpa Anda bisa menghubungi calon konsumen tadi untuk membangun kepercayaan kepada toko Anda. Ini juga berarti pemilik toko online di marketplace akan kehilangan kesempatan untuk melakukan prospek yang berujung pembelian. Padahal moment pembelian tidak selalu terjadi pada kesempatan pertama.

 

Anda juga jangan lupa apabila Anda pemilik toko online di marketplace melakukan promosi maka traffic yang datang ke toko Anda bukan tidak mungkin akan beralih ke toko sebelah. Yang juga bukan tidak mungkin hadir dengan harga yang lebih murah dan spesifikasi produk yang sama.

 

4. Gerbang Commision fee Yang Siap Menanti

Industri E-commerce di Indonesia

 

Bukan rahasia lagi antar pebisnis online, jika gerbang commision fee untuk setiap transaksi di marketplace akan semakin dekat. Nantinya setiap transaksi di marketplace akan dikenakan baik itu dibebankan ke penjual ataupun pembeli. Harga tentu akan menjadi lebih tinggi serta tantangan untuk menjual barang pun juga semakin besar. Dari sumber informan yang dapat dipercaya, commision fee akan ditetapkan dalam bentuk persen, dan hanya kemungkinan kecil saja ditetapkan flat price untuk commision fee.

 

Commision fee akan berpengaruh ke jumlah pembeli. Bagaimana solusi menyelamatkan Diri Dari Perangkap di Marketplace agar investasi waktu yang selama ini sudah dihabiskan tidak terbuang percuma? Karena itu lah ada beberapa pengusaha yang sudah menyadari perangkap berjualan di marketplace biasanya akan membangun toko online sendiri. Alih-alih hanya numpang di Bukalapak atau Tokopedia. Atau minimal berinvestasi sedikit waktu tetap berjualan di marketplace, sebagai batu loncatan. Sembari membangun toko online nya siap launching dan berdiri sendiri.

 

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk terbebas dari perangkap ini adalah dengan Jasa Pembuatan Website Terkelola. Mudah, Cepat, dan Biaya Murah. Apakah itu produk ataupun yang ingin dipasarkan, memiliki website sendiri jelas lebih baik. Selain itu kontrol penuh pun bisa Anda nikmati, misalnya saja untuk urusan marketing online. Anda perlu mengetahui berapa banyak pengunjung yang datang, berapa lama pengunjung stay di dalam website, dan halaman web yang mana yang perlu diganti.