Website & Landing Page

Zustand vs Redux: Solusi State Management React Ringan

–

redux

Dalam pengembangan aplikasi React modern, pengelolaan state menjadi salah satu bagian yang semakin penting. Ketika aplikasi masih sederhana, state biasanya cukup dikelola menggunakan useState atau useReducer. Namun, ketika data mulai digunakan oleh banyak komponen, kebutuhan akan global state management mulai muncul.

Di sinilah library seperti Zustand dan Redux sering menjadi pilihan. Keduanya sama-sama dapat digunakan untuk mengelola state secara terpusat, tetapi pendekatan yang digunakan cukup berbeda. Zustand menawarkan API yang lebih ringkas dan berbasis hooks, sedangkan Redux memiliki arsitektur yang lebih terstruktur dengan ekosistem tooling yang sangat matang.

Perlu diperhatikan bahwa membandingkan Redux modern berarti lebih tepat menggunakan Redux Toolkit (RTK), bukan pola Redux klasik. Dokumentasi resmi Redux sendiri merekomendasikan Redux Toolkit sebagai pendekatan utama untuk menulis logic Redux modern karena menyediakan konfigurasi store, reducer, middleware, dan berbagai praktik yang disarankan secara lebih sederhana. (Redux)

Sementara itu, dokumentasi resmi Zustand menggambarkannya sebagai solusi state management yang kecil, cepat, scalable, dan memiliki API berbasis hooks dengan boilerplate yang minim. Zustand juga memungkinkan komponen mengambil bagian state tertentu melalui selector tanpa harus membungkus aplikasi menggunakan Provider. (Zustand Docs)

Lalu, apakah Zustand benar-benar dapat menggantikan Redux untuk aplikasi React modern? Jawabannya bergantung pada kebutuhan aplikasi. Untuk memahaminya secara lebih mendalam, kita perlu membandingkan konsep, ukuran library, kompleksitas kode, performa, debugging, scalability, hingga fitur ekosistem keduanya.

Mengenal State Management pada React

Sebelum membandingkan Zustand dan Redux, penting memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan state management.

Apa Itu State?

State adalah data yang merepresentasikan kondisi aplikasi pada suatu waktu tertentu.

Contohnya adalah:

  • jumlah barang dalam keranjang;
  • status login pengguna;
  • tema dark atau light;
  • data profil pengguna;
  • filter produk;
  • status modal;
  • daftar notifikasi;
  • data hasil API;
  • status loading atau error.

React sebenarnya sudah menyediakan mekanisme untuk mengelola state melalui useState dan useReducer.

Masalah biasanya muncul ketika state harus digunakan oleh banyak komponen yang lokasinya berjauhan.

Misalnya, sebuah aplikasi e-commerce memiliki komponen Navbar, ProductList, CartSidebar, dan Checkout. Informasi jumlah barang di keranjang mungkin dibutuhkan oleh beberapa komponen sekaligus.

Jika state terus diteruskan menggunakan props, struktur komponen dapat menjadi semakin rumit. Kondisi seperti ini sering disebut prop drilling.

State management library hadir untuk membuat pengelolaan data bersama menjadi lebih terstruktur.

Apa Itu Global State Management?

Global state management adalah pendekatan untuk menyimpan state pada tempat yang dapat diakses oleh berbagai bagian aplikasi.

Daripada membuat:

Component A
   ↓ props
Component B
   ↓ props
Component C
   ↓ props
Component D

global state memungkinkan komponen mengambil data langsung dari store.

Secara sederhana:

             Global Store
             /    |    \
            /     |     \
     Component A  B    Component C

Zustand dan Redux sama-sama dapat digunakan dengan konsep tersebut, tetapi mekanismenya berbeda.

Apa Itu Zustand?

Zustand adalah library state management untuk React yang berfokus pada API sederhana, ukuran kecil, dan penggunaan berbasis hooks.

Dokumentasi resminya menyebut Zustand sebagai solusi state management yang kecil, cepat, dan scalable. Store dapat dibuat sebagai hook dan komponen dapat langsung menggunakannya tanpa membutuhkan Provider khusus. (Zustand Docs)

Contoh sederhananya:

import { create } from 'zustand'

const useStore = create((set) => ({
  count: 0,

  increment: () =>
    set((state) => ({
      count: state.count + 1
    }))
}))

Kemudian komponen React dapat mengambil data tersebut:

function Counter() {
  const count = useStore((state) => state.count)
  const increment = useStore((state) => state.increment)

  return (
    <>
      <p>{count}</p>
      <button onClick={increment}>
        Tambah
      </button>
    </>
  )
}

Konsepnya cukup langsung: buat store, pilih state yang dibutuhkan, lalu gunakan state tersebut dari komponen.

Dokumentasi Zustand juga menjelaskan bahwa create menghasilkan React hook dengan API store seperti setState, getState, dan subscribe. (Zustand Docs)

Mengapa Zustand Terasa Lebih Ringan?

Salah satu daya tarik utama Zustand adalah minimnya struktur tambahan.

Pada pola dasar Zustand, developer tidak perlu membuat:

  • action type;
  • reducer terpisah;
  • dispatch;
  • root reducer;
  • Provider Redux;
  • konfigurasi store yang panjang.

State dan fungsi untuk mengubahnya dapat ditempatkan dalam satu store.

Hal ini membuat Zustand menarik untuk aplikasi yang ingin mempertahankan kode sederhana dan cepat dikembangkan.

Selector pada Zustand

Salah satu konsep penting Zustand adalah selector.

Contohnya:

const count = useStore((state) => state.count)

Komponen hanya meminta count, bukan seluruh isi store.

Dokumentasi Zustand menjelaskan bahwa komponen yang menggunakan hook dapat memilih state tertentu dan akan melakukan render ketika state yang dipilih berubah. (Zustand Docs)

Pendekatan ini juga membantu menjaga efisiensi rendering.

Jika store memiliki:

{
  user: {},
  cart: [],
  notifications: [],
  theme: 'dark'
}

sebuah komponen yang hanya membutuhkan theme tidak harus mengambil seluruh objek state.

Untuk selector yang mengembalikan beberapa nilai sekaligus, Zustand juga menyediakan pendekatan seperti useShallow untuk membantu menghindari render yang tidak diperlukan ketika hasil selector secara shallow tetap sama. (Zustand Docs)

Apa Itu Redux?

Redux adalah library JavaScript untuk mengelola global state secara predictable dan terstruktur. Redux dapat digunakan dengan React maupun UI library lainnya. (Redux)

Redux menggunakan konsep store, action, reducer, dan dispatch.

Alur sederhananya:

Component
    ↓
  dispatch
    ↓
  Action
    ↓
 Reducer
    ↓
  Store
    ↓
 New State

Pendekatan ini membuat perubahan state mengikuti pola yang relatif jelas.

Namun, penting untuk membedakan Redux klasik dengan Redux modern.

Redux Toolkit sebagai Standar Modern

Redux Toolkit atau RTK merupakan toolkit resmi yang direkomendasikan oleh tim Redux untuk menulis logic Redux. RTK dirancang untuk mengurangi pekerjaan konfigurasi dan boilerplate yang dahulu sering dikaitkan dengan Redux. (Redux)

Beberapa API pentingnya antara lain:

  • configureStore;
  • createSlice;
  • createReducer;
  • createAsyncThunk;
  • RTK Query.

configureStore bahkan secara otomatis membantu mengatur reducer, middleware default, thunk, dan koneksi Redux DevTools. (Redux Toolkit)

Jadi, ketika membahas Redux vs Zustand pada React modern, perbandingan yang lebih relevan adalah Zustand vs Redux Toolkit.

Apa Itu createSlice?

createSlice merupakan API Redux Toolkit untuk membuat bagian state sekaligus reducer dan action creators.

Contoh sederhananya:

import { createSlice } from '@reduxjs/toolkit'

const counterSlice = createSlice({
  name: 'counter',

  initialState: {
    value: 0
  },

  reducers: {
    increment: (state) => {
      state.value += 1
    }
  }
})

Setelah itu reducer dan action dapat digunakan dalam store Redux.

Meskipun terlihat lebih panjang daripada Zustand, struktur seperti ini memberikan konvensi yang jelas, terutama ketika aplikasi mempunyai banyak domain state.

Zustand vs Redux dari Sisi Kompleksitas

Kompleksitas merupakan salah satu perbedaan paling mudah terlihat.

Zustand memungkinkan state dan action berada dalam satu store:

const useCounterStore = create((set) => ({
  count: 0,

  increment: () =>
    set((state) => ({
      count: state.count + 1
    }))
}))

Untuk kebutuhan sederhana, kode tersebut sudah cukup.

Redux Toolkit biasanya membutuhkan beberapa bagian konsep:

Store
  ↓
Slice
  ↓
Reducer
  ↓
Action
  ↓
Dispatch
  ↓
Component

Namun, bukan berarti Redux Toolkit selalu sulit. RTK secara khusus dibuat untuk mengurangi boilerplate Redux tradisional. configureStore misalnya sudah mengatur banyak kebutuhan umum secara otomatis. (Redux Toolkit)

Perbedaannya lebih tepat disebut sebagai perbedaan tingkat struktur.

Zustand mengutamakan kesederhanaan API, sedangkan Redux Toolkit mengutamakan struktur dan pola pengembangan yang konsisten.

Perbandingan Boilerplate

Boilerplate adalah kode tambahan yang perlu ditulis agar suatu fitur dapat berjalan, tetapi biasanya bukan inti dari business logic.

Pada Redux klasik, developer dapat membutuhkan action type, action creator, reducer, store, middleware, dan konfigurasi lainnya.

Redux Toolkit memangkas banyak bagian tersebut.

Sementara itu, Zustand biasanya dapat menyatukan state dan action dalam satu store.

Sebagai gambaran:

Zustand
Store
 ├── State
 └── Actions

Sedangkan pola Redux Toolkit lebih seperti:

Redux Toolkit
Store
 ├── Slice A
 │    ├── State
 │    └── Reducers/Actions
 │
 ├── Slice B
 │    ├── State
 │    └── Reducers/Actions
 │
 └── Middleware / RTK Query

Untuk aplikasi kecil, struktur Zustand sering terasa lebih cepat dibuat.

Untuk aplikasi besar, struktur Redux Toolkit dapat menjadi keuntungan karena developer memiliki pola yang lebih eksplisit.

Ukuran Library dan Bundle

Ukuran library merupakan salah satu alasan Zustand sering disebut sebagai solusi state management ringan.

Dokumentasi Zustand secara resmi menekankan tiny bundle size dan zero-config sebagai salah satu karakteristiknya.

Package Zustand terbaru yang tersedia di npm juga memiliki 0 dependencies pada package utamanya. (NPM)

Namun, angka ukuran bundle perlu dipahami secara hati-hati.

Pernyataan bahwa Zustand “kurang dari 1 KB” dapat berbeda tergantung cara pengukuran, versi package, format build, dan apakah yang dihitung adalah kode gzip, minified bundle, atau keseluruhan dependency aplikasi.

Karena itu, untuk artikel teknis yang akurat, lebih aman mengatakan bahwa Zustand dirancang dengan footprint yang sangat kecil, bukan menjadikan angka tertentu sebagai hasil benchmark universal.

Redux sendiri sebenarnya juga bukan library raksasa. Dokumentasi resmi Redux menyebut core Redux sekitar 2 KB termasuk dependency. (Redux)

Akan tetapi, aplikasi React dengan Redux Toolkit biasanya menggunakan beberapa package, termasuk React-Redux dan kebutuhan RTK lainnya. Karena itu, membandingkan satu angka package secara langsung tidak selalu menggambarkan bundle aplikasi sebenarnya.

Bundle final aplikasi tetap harus diukur menggunakan build tool yang digunakan proyek.

Performa dan Re-render

Performa state management tidak hanya ditentukan oleh ukuran library.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana komponen berlangganan terhadap state.

Zustand memungkinkan selector:

const username = useStore(
  (state) => state.user.name
)

Dengan cara ini, komponen mengambil bagian state tertentu.

Dokumentasi Zustand memang menjadikan subscription dengan selector sebagai bagian utama pendekatannya. (Zustand Docs)

Redux juga mempunyai mekanisme selector melalui React-Redux:

const username = useSelector(
  (state) => state.user.name
)

React-Redux kemudian membandingkan hasil selector untuk menentukan apakah komponen perlu diperbarui.

Jadi, tidak tepat mengatakan bahwa Zustand selalu lebih cepat daripada Redux hanya karena library-nya lebih kecil.

Performa sebenarnya dipengaruhi oleh:

  • ukuran state;
  • jumlah komponen;
  • desain selector;
  • frekuensi perubahan state;
  • struktur data;
  • middleware;
  • cara developer menulis komponen;
  • dan workload aplikasi.

Dalam aplikasi nyata, benchmark sederhana antara dua library belum tentu merepresentasikan performa aplikasi produksi.

Apakah Zustand Tidak Membutuhkan Provider?

Pada penggunaan standar Zustand, tidak diperlukan Provider.

Dokumentasi resminya menunjukkan bahwa hook store dapat digunakan langsung dari komponen tanpa Provider.

Contohnya:

const count = useCountStore(
  (state) => state.count
)

Berbeda dengan Redux Toolkit bersama React-Redux yang secara umum menggunakan:

<Provider store={store}>
  <App />
</Provider>

Dokumentasi Redux Toolkit juga menjelaskan bahwa store Redux perlu diberikan kepada aplikasi React menggunakan komponen <Provider>.

Namun, ini bukan berarti Zustand sama sekali tidak dapat menggunakan Context. Zustand memiliki pola untuk membuat store vanilla dan kemudian menggabungkannya dengan React Context ketika kebutuhan aplikasi memang memerlukannya.

Debugging: Zustand vs Redux

Di sinilah Redux mempunyai keunggulan ekosistem yang sangat jelas.

Redux memiliki Redux DevTools, yang dapat menampilkan:

  • daftar action;
  • isi action;
  • perubahan state;
  • state setelah action;
  • stack trace;
  • dan histori perubahan state.

Redux juga mendukung time-travel debugging. Developer dapat kembali ke kondisi state sebelumnya berdasarkan histori action.

Fitur ini sangat berguna ketika aplikasi memiliki banyak perubahan state yang saling berhubungan.

Misalnya terjadi bug:

Login
 ↓
Fetch Profile
 ↓
Update Cart
 ↓
Apply Voucher
 ↓
Checkout Error

Dengan action history Redux, developer dapat mencari perubahan state yang menyebabkan kondisi bermasalah.

Redux Toolkit bahkan mengaktifkan koneksi ke Redux DevTools melalui configureStore secara default dalam development setup. (Redux Toolkit)

Bagaimana dengan Debugging Zustand?

Zustand juga mempunyai dukungan middleware dan integrasi devtools. Dokumentasi resminya mencantumkan middleware seperti devtools, persist, immer, dan middleware lainnya. (Zustand Docs)

Namun pengalaman debugging Redux sangat erat dengan model action dan histori state-nya.

Artinya, untuk aplikasi yang sangat kompleks dan membutuhkan audit perubahan state secara detail, pendekatan Redux dapat memberikan struktur debugging yang lebih eksplisit.

Scalability untuk Aplikasi Besar

Scalability tidak hanya berarti library mampu menyimpan state dalam jumlah besar.

Scalability juga berkaitan dengan:

  • bagaimana codebase diorganisasi;
  • bagaimana developer baru memahami project;
  • bagaimana state dibagi;
  • bagaimana middleware digunakan;
  • bagaimana debugging dilakukan;
  • bagaimana API dikelola;
  • dan bagaimana standar coding dipertahankan.

Zustand dapat digunakan untuk aplikasi yang cukup besar. Dokumentasi resminya bahkan menyediakan pola slices untuk membagi store besar menjadi bagian-bagian yang lebih mudah dikelola. (Zustand Docs)

Jadi, anggapan bahwa Zustand hanya cocok untuk aplikasi kecil tidak sepenuhnya tepat.

Redux Toolkit juga memiliki pendekatan berbasis slice. Perbedaannya adalah Redux memiliki ekosistem dan konvensi yang lebih kuat di sekitar action, reducer, middleware, dan store.

Dalam organisasi dengan banyak developer, struktur tersebut dapat membantu menjaga konsistensi.

RTK Query Menjadi Pembeda Penting

Salah satu alasan Redux Toolkit tetap relevan adalah RTK Query.

RTK Query merupakan tool untuk data fetching dan caching yang tersedia sebagai bagian dari Redux Toolkit. Tujuannya adalah mengurangi kebutuhan developer menulis logic loading, caching, invalidation, polling, dan pengelolaan request secara manual.

Misalnya aplikasi mempunyai banyak endpoint:

GET /products
GET /users
GET /orders
GET /categories

Tanpa solusi caching, developer harus mengelola sendiri banyak hal:

loading
success
error
cache
refetch
invalidate

RTK Query menyediakan abstraksi untuk kebutuhan tersebut.

Ini membuat Redux Toolkit lebih dari sekadar state container.

Namun, bukan berarti menggunakan Zustand otomatis membutuhkan library tambahan untuk semua kebutuhan tersebut. Developer dapat memilih solusi fetching dan caching lain seperti TanStack Query sesuai arsitektur aplikasinya.

Dengan demikian, pemilihan Zustand atau Redux sebaiknya tidak hanya berdasarkan ukuran library, tetapi juga ekosistem yang ingin digunakan.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Zustand?

Zustand dapat menjadi pilihan ketika kebutuhan utama adalah global state yang sederhana dan developer ingin mengurangi konfigurasi.

Project Kecil sampai Menengah

Contohnya:

  • dashboard;
  • landing page interaktif;
  • aplikasi internal;
  • toko online sederhana;
  • aplikasi SaaS tahap awal;
  • aplikasi React dengan beberapa global state.

Untuk kasus seperti ini, membuat Redux store lengkap bisa terasa lebih banyak daripada kebutuhan sebenarnya.

Ingin Pengembangan Lebih Cepat

Jika tim sudah memahami React hooks dan TypeScript, API Zustand relatif mudah dipahami.

Pola:

create()
   ↓
state
   ↓
actions
   ↓
selector

cukup untuk banyak kebutuhan aplikasi.

Ingin Kode yang Ringkas

Jika tujuan utama adalah mengurangi file dan konfigurasi state management, Zustand sangat menarik.

Semakin sedikit abstraksi yang tidak dibutuhkan, semakin mudah pula developer memahami jalur perubahan state.

Kapan Redux Toolkit Lebih Masuk Akal?

Redux Toolkit lebih cocok dipertimbangkan ketika aplikasi memiliki kebutuhan state yang kompleks dan tim membutuhkan pola pengembangan yang konsisten.

Aplikasi Enterprise

Aplikasi enterprise biasanya mempunyai banyak domain:

Authentication
Users
Products
Orders
Payments
Notifications
Reports
Settings

Dalam kondisi seperti ini, pola slice dan store Redux Toolkit dapat membantu mengorganisasi state.

Membutuhkan Debugging Mendalam

Jika tim sangat bergantung pada action history dan time-travel debugging, Redux memiliki tooling yang sangat matang untuk kebutuhan tersebut.

Membutuhkan RTK Query

Jika aplikasi membutuhkan data fetching dan caching yang terintegrasi dengan ekosistem Redux, RTK Query menjadi faktor penting dalam pemilihan.

Tim Besar

Dalam tim besar, konvensi dapat menjadi lebih penting daripada sekadar jumlah baris kode.

Redux Toolkit menyediakan pola yang lebih eksplisit mengenai bagaimana state, reducer, action, middleware, dan store diorganisasi.

Hal ini dapat membantu mengurangi variasi cara implementasi antar developer.

Apakah Zustand Bisa Menggantikan Redux?

Untuk sebagian aplikasi, jawabannya bisa.

Jika kebutuhan aplikasi hanya:

  • menyimpan user session;
  • menyimpan theme;
  • mengelola cart;
  • menyimpan filter;
  • mengontrol modal;
  • mengelola UI state;

Zustand dapat menjadi solusi yang sangat praktis.

Namun, mengganti Redux bukan tujuan yang harus dilakukan pada setiap project.

Redux masih memiliki alasan kuat untuk digunakan ketika aplikasi membutuhkan ekosistem Redux, debugging action yang mendalam, struktur state yang sangat terorganisasi, atau RTK Query.

Sebaliknya, menggunakan Redux hanya karena “aplikasi React harus memakai Redux” juga sudah tidak relevan dengan perkembangan ekosistem React modern.

Pilihan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan aplikasi.

Jangan Menggunakan Global State untuk Semua Data

Satu hal penting yang sering terlewat adalah tidak semua data harus dimasukkan ke global state.

Misalnya:

Input form
Modal terbuka
Hover state
Dropdown terbuka
Tab aktif

Data seperti ini sering cukup menggunakan local state React.

Sementara:

User session
Shopping cart
Global preferences
Application settings
Shared UI state

dapat dipertimbangkan untuk global state.

Untuk data server seperti:

Products API
Orders API
User profile API

developer juga perlu mempertimbangkan server-state management dan caching.

Jadi, pemilihan Zustand atau Redux hanyalah salah satu bagian dari arsitektur aplikasi React.

Zustand vs Redux: Perbandingan Utama

Jika diringkas, perbedaan keduanya dapat dilihat dari beberapa aspek berikut.

AspekZustandRedux Toolkit
KonsepGlobal state berbasis store dan hooksGlobal state dengan store, actions, reducers
APISangat sederhanaLebih terstruktur
BoilerplateSangat minimLebih banyak, tetapi jauh lebih ringkas dibanding Redux klasik
ProviderTidak diperlukan pada penggunaan standarMenggunakan React-Redux Provider
SelectorDidukung langsung melalui hookMenggunakan useSelector
UkuranSangat kecil dan berfokus pada footprint rendahLebih banyak package untuk ekosistem lengkap
SetupCepatMembutuhkan konfigurasi store
Learning curveRelatif rendahLebih banyak konsep untuk dipelajari
PerformaSelector dapat membantu membatasi subscription dan renderSelector dan React-Redux membantu mengontrol update
DebuggingTersedia integrasi devtoolsRedux DevTools sangat matang
Time-travel debuggingTidak menjadi fokus utama seperti ReduxDukungan sangat kuat melalui Redux DevTools
MiddlewareTersedia melalui middleware ZustandEkosistem middleware sangat luas
PersistenceTersedia middleware persistDapat menggunakan berbagai pendekatan/library
Data fetchingTidak fokus utamaRTK Query tersedia
Caching APIMembutuhkan solusi lain atau implementasi tambahanRTK Query menyediakan fetching dan caching
Struktur projectFleksibelLebih opinionated dan terstruktur
Project kecilSangat sesuai untuk kebutuhan sederhanaBisa digunakan, tetapi mungkin lebih terstruktur dari kebutuhan
Project menengahDapat digunakan dengan pola store/slicesSangat cocok dengan struktur slice
EnterpriseDapat digunakan jika arsitektur dirancang dengan baikCocok untuk kebutuhan kompleks dan tooling ekstensif
Tim besarMembutuhkan kesepakatan pola internalKonvensi Redux membantu konsistensi
TypeScriptDukungan sangat baikDukungan sangat baik
EcosystemBerkembang dan fleksibelSangat matang
Cocok ketikaIngin state management sederhana dan ringanMembutuhkan struktur, debugging, middleware, dan ekosistem kuat

Jadi, Mana yang Lebih Tepat untuk React Modern?

Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk seluruh aplikasi.

Zustand menawarkan pendekatan yang lebih ringan dan sederhana. API berbasis hooks, selector, dan tidak adanya kebutuhan Provider pada penggunaan standar membuatnya menarik untuk developer yang ingin langsung fokus pada fitur aplikasi. Dokumentasi resminya juga menempatkan minimal API, selector, performa rendering, dan footprint kecil sebagai bagian penting dari desain library.

Sementara itu, Redux Toolkit menawarkan struktur dan ekosistem yang lebih lengkap. Redux tetap memiliki keunggulan pada action history, Redux DevTools, time-travel debugging, middleware, serta integrasi RTK Query untuk data fetching dan caching.

Karena itu, pemilihannya dapat dibuat berdasarkan kebutuhan:

Pilih Zustand jika:

  • menginginkan API yang sederhana;
  • ingin mengurangi boilerplate;
  • aplikasi memiliki global state yang relatif sederhana;
  • membutuhkan setup cepat;
  • ingin store berbasis hooks;
  • tidak membutuhkan ekosistem Redux secara khusus.

Pilih Redux Toolkit jika:

  • aplikasi mempunyai state dan business logic yang kompleks;
  • tim membutuhkan pola arsitektur yang sangat terstruktur;
  • debugging action history menjadi kebutuhan penting;
  • membutuhkan Redux DevTools dan time-travel debugging;
  • membutuhkan RTK Query;
  • project dikerjakan oleh tim besar dengan kebutuhan konvensi yang kuat.

Dengan kata lain, Zustand bukan sekadar “Redux yang lebih kecil”. Keduanya memiliki filosofi penggunaan yang berbeda. Zustand berusaha membuat global state terasa sedekat mungkin dengan pengalaman menggunakan hooks, sedangkan Redux Toolkit memberikan arsitektur yang lebih formal untuk aplikasi dengan kebutuhan state dan tooling yang kompleks.

Untuk aplikasi React baru yang sederhana sampai menengah, Zustand layak dipertimbangkan ketika prioritas utama adalah kesederhanaan, kecepatan pengembangan, dan minimnya boilerplate. Untuk aplikasi dengan domain bisnis kompleks, kebutuhan debugging yang mendalam, atau pemanfaatan RTK Query, Redux Toolkit tetap memiliki alasan kuat untuk dipilih.

Pada akhirnya, ukuran library bukan satu-satunya ukuran kualitas. State management yang baik adalah state management yang sesuai dengan kompleksitas aplikasi, kemampuan tim, dan kebutuhan jangka panjang project.

Facebook
Twitter
LinkedIn