Membangun website interaktif selama ini sering dikaitkan dengan JavaScript dan berbagai framework frontend seperti React. Ketika kebutuhan aplikasi semakin kompleks, developer biasanya mulai berhadapan dengan berbagai komponen tambahan seperti state management, bundler, package manager, routing, API layer, hingga framework pendukung. Kondisi tersebut membuat pengembangan frontend menjadi semakin kuat, tetapi sekaligus dapat menambah kompleksitas proyek.
Di tengah kondisi tersebut, HTMX muncul dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih memindahkan sebagian besar logika antarmuka ke browser, HTMX memungkinkan developer menambahkan interaksi langsung melalui atribut HTML seperti hx-get, hx-post, hx-target, dan hx-swap. Server kemudian dapat mengembalikan potongan HTML yang langsung digunakan untuk memperbarui halaman. Dokumentasi resmi HTMX memang menempatkan AJAX, CSS transition, WebSocket, dan Server-Sent Events sebagai kemampuan yang dapat diakses langsung melalui HTML.
Sementara itu, React tetap memiliki posisi yang berbeda. React dirancang untuk membangun antarmuka menggunakan komponen, JavaScript, JSX, state, dan berbagai mekanisme rendering. Dokumentasi resminya menjelaskan bahwa komponen React pada dasarnya merupakan fungsi JavaScript yang menghasilkan markup, kemudian dapat digabungkan menjadi halaman dan aplikasi yang lebih besar.
Karena itu, perbandingan HTMX vs React sebenarnya bukan sekadar mencari teknologi mana yang lebih cepat atau lebih modern. Keduanya menggunakan paradigma pengembangan yang berbeda. HTMX lebih dekat dengan pendekatan server-driven dan hypermedia, sedangkan React memberikan kontrol yang lebih besar kepada sisi client.
Menariknya, tren pengembangan web saat ini semakin memperlihatkan bahwa developer tidak selalu membutuhkan JavaScript dalam jumlah besar untuk membuat website terasa interaktif. HTMX menjadi salah satu contoh bagaimana HTML dan server masih dapat digunakan sebagai fondasi utama aplikasi web modern.
Table of Contents
ToggleMengenal HTMX dan Cara Kerjanya
HTMX adalah library JavaScript ringan yang memperluas kemampuan HTML melalui atribut khusus. Dengan HTMX, elemen HTML dapat melakukan request HTTP dan menerima respons dari server tanpa developer harus menulis JavaScript secara manual untuk setiap interaksi.
Dokumentasi resmi HTMX menyediakan atribut seperti hx-get, hx-post, hx-put, hx-patch, dan hx-delete. Atribut tersebut memungkinkan elemen HTML melakukan request ke URL tertentu ketika sebuah event terjadi.
Sebagai contoh sederhana, developer dapat memiliki tombol seperti berikut:
<button hx-get="/data">
Tampilkan Data
</button>
Ketika tombol tersebut diklik, HTMX akan melakukan request GET ke /data. Server kemudian dapat mengembalikan HTML yang akan dimasukkan ke halaman.
Pendekatan ini berbeda dari pola aplikasi frontend tradisional. Developer tidak harus membuat endpoint JSON kemudian menulis JavaScript untuk mengubah JSON tersebut menjadi elemen HTML. Server dapat langsung mengirim HTML yang siap ditampilkan.
Apa Itu HTML-over-the-Wire?
HTML-over-the-wire adalah pendekatan ketika server mengirim HTML sebagai respons dan browser menggunakan HTML tersebut untuk memperbarui bagian tertentu dari halaman.
Konsepnya sebenarnya sederhana. Browser meminta sesuatu kepada server, server memproses permintaan tersebut, lalu server mengembalikan HTML yang dibutuhkan.
HTMX kemudian menentukan bagian halaman mana yang harus diperbarui.
Misalnya sebuah halaman memiliki daftar produk. Ketika pengguna menekan tombol “Muat Produk”, server dapat mengembalikan HTML daftar produk dan HTMX memasukkannya ke elemen tertentu.
Dengan hx-target, developer dapat menentukan elemen tujuan. Sementara hx-swap dapat digunakan untuk menentukan bagaimana HTML tersebut dimasukkan ke DOM. Dokumentasi HTMX menjelaskan bahwa hx-target menentukan target swap dan hx-swap mengatur strategi pertukaran konten.
Pendekatan ini membuat kode frontend menjadi relatif sederhana karena logika utama tetap berada di server.
HTMX Bukan Berarti Website Tanpa JavaScript Sama Sekali
Istilah “tanpa JavaScript yang rumit” lebih tepat dibandingkan “tanpa JavaScript”.
HTMX sendiri adalah library JavaScript. Jadi browser tetap menjalankan JavaScript ketika HTMX digunakan.
Perbedaannya adalah developer tidak perlu menulis banyak JavaScript untuk interaksi umum seperti mengambil data, mengirim form, mengganti bagian halaman, melakukan polling, atau membuat interaksi tertentu dengan server.
Dokumentasi HTMX bahkan menyebutnya sebagai library JavaScript yang browser-oriented dan dependency-free. HTMX dapat digunakan hanya dengan menambahkan file script ke halaman, tanpa membutuhkan build system untuk penggunaan dasarnya.
Inilah yang membuat HTMX menarik bagi developer yang merasa ekosistem frontend modern terlalu kompleks untuk kebutuhan aplikasi mereka.
Ukuran HTMX yang Relatif Kecil
Salah satu alasan HTMX sering dibicarakan dalam konteks performa adalah ukurannya yang kecil.
Dokumentasi HTMX generasi sebelumnya mencatat ukuran sekitar 14 KB minified dan gzip, sedangkan halaman resmi HTMX saat ini menyebut sekitar 16 KB minified dan gzip untuk versi yang ditampilkan di situsnya. Karena ukuran dapat berubah mengikuti versi, angka tersebut sebaiknya dipahami sebagai kisaran, bukan angka tetap untuk semua rilis.
Hal ini tetap menarik jika dibandingkan dengan aplikasi frontend yang harus membawa berbagai library tambahan.
Namun, ukuran library bukan satu-satunya faktor penentu performa website. Jumlah JavaScript aplikasi, ukuran CSS, gambar, font, respons server, database, caching, jaringan, serta cara halaman dirender juga sangat berpengaruh.
Mengenal React dan Pendekatan Component-Based
React merupakan library untuk membangun user interface berbasis komponen. Dalam React, halaman dipecah menjadi komponen-komponen yang dapat memiliki logika dan tampilan masing-masing.
Contohnya dapat berupa komponen:
function Button() {
return <button>Kirim</button>;
}
Komponen tersebut kemudian dapat digunakan sebagai bagian dari komponen yang lebih besar.
Pendekatan component-based menjadi salah satu kekuatan utama React. Developer dapat membuat komponen kecil dan menggabungkannya menjadi antarmuka yang lebih kompleks.
Dokumentasi resmi React menjelaskan bahwa komponen dapat berukuran kecil seperti tombol maupun sebesar sebuah halaman. Komponen React juga dapat dikombinasikan untuk membentuk screen dan aplikasi secara keseluruhan.
Apa Itu State dalam React?
State merupakan data yang dapat berubah dan memengaruhi tampilan komponen.
Misalnya sebuah aplikasi memiliki tombol penghitung:
const [count, setCount] = useState(0);
Ketika setCount digunakan untuk mengubah nilai, React akan menjadwalkan proses rendering kembali sehingga tampilan dapat menyesuaikan state terbaru.
Dokumentasi React menjelaskan bahwa pembaruan state dapat memicu render berikutnya. React kemudian melakukan proses render dan commit terhadap DOM.
Konsep inilah yang membuat React sangat kuat untuk aplikasi dengan banyak perubahan state di sisi client.
Mengapa State Menjadi Penting pada Aplikasi Kompleks?
Bayangkan sebuah aplikasi spreadsheet online.
Pengguna dapat:
- Mengubah banyak sel.
- Melakukan undo dan redo.
- Memilih banyak elemen.
- Membuka menu kontekstual.
- Mengubah data tanpa selalu mengirimkannya ke server.
- Melakukan perhitungan lokal.
- Menyimpan perubahan sementara.
- Berinteraksi dengan komponen lain secara bersamaan.
Dalam situasi seperti ini, pengelolaan state client menjadi sangat penting.
React menyediakan konsep dan pola untuk mengatur state tersebut. Dokumentasi React juga secara khusus membahas pengorganisasian state, berbagi state antar-komponen, menghindari state yang berulang, hingga pengelolaan state kompleks.
HTMX vs React dalam Cara Mengelola Interaksi
Perbedaan paling mendasar antara HTMX dan React terletak pada lokasi logika interaksi.
Pada HTMX, sebagian besar pekerjaan dapat dilakukan oleh server. Browser meminta HTML baru dan mengganti bagian halaman yang diperlukan.
Pada React, browser dapat memegang lebih banyak informasi mengenai state aplikasi. Perubahan state tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan UI yang sesuai.
Sederhananya:
HTMX cenderung bertanya kepada server, “HTML apa yang harus ditampilkan sekarang?”
Sedangkan:
React cenderung mengelola state di client dan menentukan bagaimana UI harus berubah berdasarkan state tersebut.
Tidak ada pendekatan yang secara otomatis cocok untuk semua proyek.
Kelebihan HTMX untuk Pengembangan Web
HTMX memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya menarik untuk aplikasi tertentu.
Tidak Membutuhkan Build Pipeline untuk Penggunaan Dasar
Salah satu keunggulan HTMX adalah kesederhanaannya.
Dokumentasi HTMX menjelaskan bahwa library ini dapat dipasang melalui script dan tidak membutuhkan build system untuk penggunaan dasarnya.
Developer tidak harus langsung membuat proyek dengan berbagai konfigurasi modern hanya untuk menambahkan interaksi sederhana.
Ini sangat menarik bagi developer backend.
Developer PHP, Python, Ruby, Go, atau framework server-side lainnya dapat tetap bekerja dengan pola server-rendered HTML dan menambahkan interaktivitas menggunakan HTMX.
Cocok untuk CRUD dan Aplikasi Internal
CRUD merupakan singkatan dari Create, Read, Update, dan Delete.
Aplikasi CRUD biasanya memiliki banyak form, tabel, filter, pencarian, pagination, modal, dan perubahan data.
Contohnya:
- Dashboard administrasi.
- Sistem inventory.
- Sistem akademik.
- Sistem kepegawaian.
- Aplikasi internal perusahaan.
- CMS.
- Sistem manajemen pelanggan.
Untuk aplikasi seperti ini, kebutuhan utama sering kali bukan membuat client-side application yang sangat kompleks. Yang lebih penting adalah data dapat ditampilkan dan diperbarui dengan cepat dan sederhana.
Pendekatan HTMX cocok dengan pola tersebut.
Sumber WeAreDevelopers juga menjelaskan bahwa HTMX dapat digunakan untuk aplikasi server-rendered seperti aplikasi berbasis Django, Flask, dan Ruby on Rails, terutama ketika developer ingin menambahkan interaktivitas tanpa harus beralih sepenuhnya ke arsitektur SPA.
Lebih Mudah Dipahami Developer Backend
Developer backend biasanya sudah terbiasa dengan:
- Routing.
- Controller.
- Database.
- Template.
- Form.
- HTTP request.
- HTTP response.
HTMX mempertahankan konsep tersebut.
Alih-alih membuat API JSON khusus untuk frontend kemudian membuat client mengolah responsnya, server dapat langsung menghasilkan HTML.
Karena itu, kurva belajar HTMX dapat terasa lebih pendek bagi developer yang sudah memahami HTML dan backend.
Kekurangan HTMX
HTMX juga memiliki batasan.
Tidak Ideal untuk Semua Jenis Aplikasi
HTMX sangat menarik ketika server menjadi sumber utama data dan halaman membutuhkan interaksi ringan sampai menengah.
Namun, situasinya berubah ketika aplikasi membutuhkan interaksi client-side yang sangat intens.
Contohnya:
- Game browser kompleks.
- Editor grafis.
- Spreadsheet dengan interaksi tinggi.
- Aplikasi desain.
- Editor video.
- Aplikasi offline-first.
- Aplikasi kolaborasi dengan state client yang sangat kompleks.
Dalam aplikasi tersebut, terlalu sering meminta server untuk menghasilkan HTML dapat menjadi kurang sesuai dengan kebutuhan arsitektur aplikasi.
Ekosistem Lebih Kecil
Ekosistem React sangat besar.
React memiliki dokumentasi, komunitas, library, tooling, framework, UI component library, testing tools, dan berbagai solusi lain.
HTMX memiliki ekosistem yang jauh lebih kecil.
Ini bukan berarti HTMX tidak dapat digunakan untuk aplikasi serius. Namun, ketika proyek membutuhkan library khusus untuk kebutuhan frontend tertentu, kemungkinan menemukan solusi siap pakai di ekosistem React lebih besar.
Kelebihan React untuk Aplikasi Kompleks
React menawarkan fleksibilitas besar untuk aplikasi dengan interaksi tinggi.
Kontrol Client-Side Lebih Mendalam
React memungkinkan state disimpan dan dikelola di browser.
Hal ini penting untuk aplikasi yang membutuhkan respons sangat cepat terhadap tindakan pengguna.
Misalnya aplikasi editing gambar.
Ketika pengguna menggeser slider brightness, tidak ideal jika setiap perubahan kecil harus meminta server menghasilkan HTML baru.
Lebih masuk akal jika browser mengelola perubahan tersebut secara langsung.
Arsitektur Komponen
Komponen React dapat digunakan kembali.
Misalnya sebuah website memiliki:
- Button.
- Modal.
- Dropdown.
- Data table.
- Search box.
- Pagination.
- Notification.
- Form.
- Sidebar.
Komponen tersebut dapat dirancang agar reusable.
Ketika aplikasi semakin besar, pendekatan ini membantu tim menjaga struktur kode.
Ekosistem Sangat Besar
React memiliki ekosistem yang matang dan digunakan pada berbagai jenis aplikasi.
Selain web, React juga menjadi dasar bagi React Native untuk pengembangan aplikasi mobile.
Dokumentasi resmi React juga membedakan kemampuan React untuk UI dengan react-dom untuk aplikasi web dan API server rendering.
Kekurangan React
Kekuatan React juga dapat menghasilkan kompleksitas.
Membutuhkan Pengetahuan JavaScript yang Lebih Mendalam
Untuk menggunakan React secara optimal, developer perlu memahami beberapa konsep:
- JavaScript modern.
- JSX.
- Components.
- Props.
- State.
- Hooks.
- Rendering.
- Event handling.
- Data fetching.
- Routing.
- Performance optimization.
Ketika aplikasi semakin besar, kebutuhan tersebut dapat berkembang lagi menjadi kebutuhan state management, testing, build tooling, dan framework pendukung.
Kompleksitas Tooling
React sendiri bukan berarti selalu membutuhkan stack yang sangat rumit. React dapat digunakan secara sederhana dan bahkan dapat ditambahkan ke bagian tertentu dari halaman.
Dokumentasi createRoot menunjukkan bahwa React juga dapat digunakan untuk beberapa root pada bagian halaman tertentu, sehingga tidak harus selalu menjadi satu aplikasi besar.
Namun, untuk aplikasi berskala besar, developer sering menggunakan framework dan berbagai tooling tambahan.
Karena itu, kompleksitas yang sering dikaitkan dengan React sebenarnya sering berasal dari ekosistem aplikasi React secara keseluruhan, bukan semata-mata dari library React.
Bagaimana dengan SEO?
SEO sering menjadi salah satu alasan developer mempertimbangkan server-rendered HTML.
Pada pendekatan HTMX, server dapat menghasilkan HTML yang langsung diterima browser. Ini membuat pola server-rendered terasa natural.
HTMX sendiri bukan framework SEO, tetapi arsitektur server-rendered dapat membantu menyediakan konten HTML sejak awal.
React juga dapat digunakan untuk server-side rendering.
Jadi, mengatakan React tidak cocok untuk SEO adalah kurang tepat.
Dokumentasi React menyediakan API untuk rendering di server dan juga menjelaskan bahwa HTML dapat dihasilkan di server kemudian di-hydrate menggunakan hydrateRoot.
Bahkan perkembangan React modern terus memperkuat kemampuan server rendering.
React 19.2, misalnya, memperkenalkan Partial Pre-rendering serta berbagai peningkatan pada server rendering.
Dengan demikian, SEO sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya alasan memilih HTMX atau React.
Yang lebih penting adalah bagaimana aplikasi dirancang dan bagaimana konten dikirim kepada pengguna serta mesin pencari.
HTMX vs React dari Sisi Performa
Performa tidak bisa ditentukan hanya dari ukuran library.
Website HTMX yang memiliki server lambat dan query database buruk tetap dapat terasa lambat.
Sebaliknya, aplikasi React yang menggunakan server rendering, code splitting, caching, optimasi asset, dan arsitektur yang baik juga dapat memiliki performa yang sangat baik.
Meski demikian, HTMX memiliki keuntungan arsitektural karena kebutuhan JavaScript client-side dapat dibuat jauh lebih kecil.
Dokumentasi resmi HTMX menyebut ukuran sekitar 16 KB minified dan gzip pada versi yang saat ini ditampilkan, sedangkan versi sebelumnya berada di kisaran 14 KB.
Namun, jangan membandingkan angka ukuran library secara langsung dengan ukuran keseluruhan aplikasi React.
Aplikasi React dapat memiliki banyak dependensi, tetapi juga dapat menggunakan optimasi modern seperti lazy loading, code splitting, server rendering, dan berbagai strategi caching.
HTMX atau React untuk Developer Pemula?
Untuk pemula, pilihan sebaiknya disesuaikan dengan tujuan belajar.
Jika ingin memahami bagaimana website server-rendered bekerja, HTMX dapat menjadi pilihan menarik.
Developer dapat belajar:
- HTML.
- HTTP.
- Request dan response.
- Server-side rendering.
- Template.
- Database.
- AJAX.
- Partial HTML.
Sementara itu, React cocok untuk pemula yang ingin mendalami frontend modern dan membangun aplikasi client-side dengan pendekatan component-based.
React akan memperkenalkan konsep seperti component, props, state, event, rendering, dan hooks. Dokumentasi resmi React menyediakan pembelajaran bertahap mengenai konsep-konsep tersebut.
Kapan Sebaiknya Memilih HTMX?
HTMX dapat menjadi pilihan ketika aplikasi memiliki karakteristik berikut:
Website Konten
Blog, portal informasi, website perusahaan, website pendidikan, dan website berbasis konten dapat memanfaatkan server-rendered HTML.
Dashboard Internal
Jika dashboard memiliki tabel, filter, form, pagination, dan CRUD, HTMX dapat menyederhanakan frontend.
Sistem Administrasi
Aplikasi administrasi sering tidak membutuhkan client-side state yang sangat kompleks.
Tim Backend
Jika sebagian besar anggota tim adalah backend developer, HTMX dapat mengurangi kebutuhan untuk membangun frontend JavaScript yang kompleks.
Proyek dengan Prioritas Kesederhanaan
Jika kebutuhan aplikasi dapat diselesaikan dengan HTML, CSS, server-side rendering, dan sedikit JavaScript, menggunakan stack yang jauh lebih besar belum tentu memberikan keuntungan yang sebanding.
Kapan Sebaiknya Memilih React?
React lebih sesuai ketika aplikasi memiliki kebutuhan seperti:
Aplikasi Interaktif Tinggi
Contohnya:
- Spreadsheet.
- Editor.
- Aplikasi desain.
- Dashboard analitik kompleks.
- Aplikasi produktivitas.
- Aplikasi dengan banyak komponen interaktif.
State Client yang Kompleks
Jika banyak komponen perlu berbagi dan merespons perubahan state secara real-time di browser, React dapat memberikan model yang lebih sesuai.
Offline-First
Aplikasi yang harus tetap berfungsi dengan baik ketika koneksi tidak tersedia membutuhkan banyak logika client-side.
Dalam kasus seperti ini, pendekatan React dapat lebih sesuai dibandingkan pola yang sangat bergantung pada server.
Pengembangan Lintas Platform
Jika tim memiliki rencana mengembangkan aplikasi web dan mobile dengan ekosistem React, penggunaan React dapat memberikan keuntungan dari sisi keterampilan dan struktur pengembangan.
Apakah HTMX dan React Bisa Digabungkan?
Jawabannya adalah bisa.
Developer tidak selalu harus memilih salah satu untuk seluruh aplikasi.
Misalnya sebuah website dapat menggunakan server-rendered HTML dan HTMX untuk sebagian besar halaman.
Kemudian sebuah komponen tertentu yang membutuhkan interaksi sangat kompleks dapat menggunakan React.
Contohnya:
- HTMX untuk dashboard umum.
- React untuk grafik interaktif.
- HTMX untuk form administrasi.
- React untuk editor.
- HTMX untuk halaman konten.
- React untuk konfigurator produk.
Pendekatan seperti ini dapat menjadi jalan tengah.
Tidak semua bagian website harus menggunakan teknologi frontend yang sama.
Pemilihan teknologi sebaiknya mengikuti kebutuhan setiap bagian aplikasi.
Tren Web Modern: Kembali ke Server?
Kemunculan HTMX menarik karena memperlihatkan bahwa industri web tidak selalu bergerak menuju JavaScript yang semakin besar.
Pada beberapa proyek, developer justru mulai mengevaluasi kembali apakah semua interaksi harus dilakukan di browser.
Perkembangan tersebut tidak berarti JavaScript framework telah menjadi tidak relevan.
React terus berkembang. Dokumentasi resmi React saat ini mencatat React 19.3 sebagai versi terbaru, dengan fitur seperti View Transitions dan Fragment Refs yang telah stabil pada rilis tersebut.
Yang berubah adalah cara developer melihat arsitektur aplikasi.
Jika sebuah aplikasi tidak membutuhkan client-side state yang rumit, mengurangi JavaScript dapat menjadi keputusan arsitektur yang masuk akal.
Jika aplikasi membutuhkan interaksi client-side yang sangat kompleks, menggunakan JavaScript framework tetap menjadi pilihan yang rasional.
Perbandingan HTMX dan React
| Aspek | HTMX | React |
|---|---|---|
| Pendekatan utama | Server-driven / hypermedia | Component-based UI |
| Bahasa utama | HTML dengan atribut HTMX | JavaScript atau TypeScript dengan JSX |
| JavaScript | Minimal untuk kebutuhan umum | Menjadi bagian penting dari aplikasi |
| Rendering | Banyak mengandalkan HTML dari server | Client rendering, tetapi dapat menggunakan SSR dan SSG |
| State | Cenderung berada di server | Sangat kuat untuk client-side state |
| Build system | Tidak wajib untuk penggunaan dasar | Bergantung pada setup aplikasi; framework modern sering menambahkan tooling |
| Ukuran library | Sekitar 14-16 KB minified + gzip tergantung versi | Tidak tepat dibandingkan sebagai satu angka tetap karena ukuran aplikasi bergantung pada setup dan dependensi |
| CRUD | Sangat cocok | Cocok |
| Dashboard sederhana | Sangat cocok | Cocok |
| Website konten | Sangat cocok | Cocok |
| SPA kompleks | Terbatas dibandingkan pendekatan React | Sangat cocok |
| Offline-first | Terbatas | Lebih sesuai |
| Spreadsheet kompleks | Kurang ideal | Lebih sesuai |
| Editor interaktif | Kurang ideal | Lebih sesuai |
| Kurva belajar | Relatif sederhana bagi developer backend | Lebih luas untuk frontend modern |
| Ekosistem | Lebih kecil | Sangat besar |
| Reusability | HTML/template dan komponen server | Komponen React |
| Server-side rendering | Natural dalam arsitekturnya | Didukung |
| SEO | Sangat cocok untuk pola server-rendered | Dapat dioptimalkan melalui SSR/SSG |
| Ketergantungan backend | Tinggi | Dapat lebih independen dari backend |
| Cocok untuk backend developer | Sangat cocok | Membutuhkan pembelajaran frontend lebih banyak |
| Cocok untuk aplikasi kompleks | Tergantung kebutuhan | Sangat kuat |
| Penggunaan lintas platform | Fokus pada web | Web dan dapat diperluas ke ekosistem React Native |
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa HTMX dan React bukan dua teknologi yang benar-benar saling menggantikan.
HTMX unggul ketika kesederhanaan, server-rendered HTML, dan interaksi ringan sampai menengah menjadi kebutuhan utama.
React unggul ketika aplikasi membutuhkan komponen interaktif, client-side state, dan kontrol UI yang lebih mendalam.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan “HTMX atau React lebih bagus?”, melainkan “arsitektur mana yang paling sesuai dengan kebutuhan aplikasi?”
HTMX menawarkan pendekatan yang menarik dalam pengembangan website modern. Dengan atribut HTML seperti hx-get, hx-post, hx-target, dan hx-swap, developer dapat membuat interaksi dinamis tanpa harus menulis JavaScript secara manual dalam jumlah besar.
Pendekatan ini sangat relevan untuk website konten, aplikasi internal, dashboard administratif, sistem CRUD, dan berbagai aplikasi yang logika utamanya tetap berada di server.
Di sisi lain, React memberikan kontrol yang jauh lebih besar terhadap antarmuka client-side. Sistem komponen, state, rendering, dan ekosistem yang luas membuat React sangat cocok untuk aplikasi dengan interaksi kompleks. Dokumentasi React sendiri menunjukkan bagaimana state menjadi bagian penting dalam pengelolaan UI ketika aplikasi berkembang.
Perlu diperhatikan bahwa HTMX bukan pengganti mutlak React, dan React juga bukan solusi yang wajib digunakan untuk setiap website.
Jika sebuah website hanya membutuhkan interaksi seperti pencarian, filter, form, pagination, modal, update tabel, dan operasi CRUD, HTMX dapat menjadi solusi yang lebih sederhana.
Jika aplikasi membutuhkan editor kompleks, interaksi real-time di browser, offline-first, state client yang besar, atau UI dengan banyak hubungan antar-komponen, React dapat memberikan fondasi yang lebih sesuai.
Tren HTMX sebenarnya memperlihatkan sebuah hal penting dalam pengembangan web: semakin banyak teknologi yang tersedia bukan berarti semua teknologi harus digunakan sekaligus. Stack terbaik adalah stack yang mampu menyelesaikan kebutuhan aplikasi dengan kompleksitas yang sesuai.
Dengan memahami perbedaan pendekatan tersebut, developer dapat menentukan kapan harus menggunakan HTML dan server sebagai pusat aplikasi, kapan membutuhkan client-side JavaScript, dan kapan kombinasi keduanya menjadi pilihan yang lebih masuk akal.
