Google terus memperbarui dokumentasi dan kebijakan yang berkaitan dengan Google Search, termasuk penggunaan Indexing API. Bagi pemilik website dan praktisi SEO, perubahan ini penting diperhatikan karena Google memperjelas bahwa pengiriman melalui Indexing API tunduk pada deteksi spam. Selain itu, upaya menyalahgunakan API atau mencoba melampaui batas penggunaan dapat menyebabkan akses ke Indexing API dicabut.
Indexing API sendiri bukan alat untuk mempercepat indeks semua jenis halaman website. Google membatasi penggunaannya pada halaman yang memiliki JobPosting atau BroadcastEvent yang disematkan dalam VideoObject. Karena itu, memahami aturan, kuota, dan risiko penggunaannya penting agar strategi indexing tidak justru menimbulkan masalah.
Table of Contents
ToggleApa Itu Google Indexing API?
Google Indexing API adalah API yang memungkinkan pemilik website memberi tahu Google ketika halaman tertentu baru dibuat, diperbarui, atau dihapus. Dengan notifikasi tersebut, Google dapat menjadwalkan crawling terhadap URL yang dikirimkan.
Namun, ada batasan penting yang sering terlewat. Berdasarkan dokumentasi Google, Indexing API hanya dapat digunakan untuk halaman yang memiliki data terstruktur JobPosting atau BroadcastEvent yang disematkan dalam VideoObject. Artinya, API ini bukan metode umum untuk meminta Google mengindeks seluruh artikel blog.
Untuk website yang memiliki banyak halaman dengan masa berlaku singkat, seperti postingan lowongan atau video livestream, Indexing API dapat membantu Google menerima informasi mengenai perubahan URL dengan lebih cepat. Google tetap merekomendasikan sitemap untuk membantu mencakup seluruh website.
Update Aturan Google Indexing API Terbaru
Pembaruan penting mengenai Indexing API tercatat pada September 2024 di dokumentasi resmi Google Search Central. Pada 4 September 2024, Google memperjelas bahwa kuota default Indexing API ditujukan untuk penyiapan dan pengujian awal. Google juga memperjelas proses untuk meminta persetujuan dan kuota tambahan.
Kemudian pada 11 September 2024, Google memperjelas bahwa pengiriman melalui Indexing API tunduk pada deteksi spam. Google juga menyatakan bahwa upaya untuk melampaui kuota dapat mengakibatkan akses terhadap API dicabut.
Pembaruan ini penting karena penggunaan Indexing API tidak hanya berkaitan dengan konfigurasi teknis. Pemilik website juga perlu memastikan bahwa cara penggunaan API tetap mengikuti pedoman Google.
Apa Arti Pembaruan Ini bagi Pemilik Website?
Pemilik website sebaiknya tidak menggunakan Indexing API secara sembarangan untuk mengirim URL dalam jumlah besar, terutama jika halaman tersebut tidak termasuk jenis halaman yang didukung.
Penggunaan API sebaiknya mengikuti tujuan yang diberikan Google, yaitu memberi tahu perubahan pada halaman yang memenuhi persyaratan Indexing API.
Siapa yang Boleh Menggunakan Google Indexing API?
Google secara khusus menyatakan bahwa Indexing API hanya dapat digunakan untuk melakukan crawling terhadap halaman yang memiliki salah satu jenis data terstruktur berikut:
JobPostingBroadcastEventyang disematkan dalamVideoObject
Karena pembatasan tersebut, artikel blog biasa, halaman kategori, halaman produk, landing page, atau halaman perusahaan tidak otomatis menjadi halaman yang cocok untuk dikirim menggunakan Indexing API.
Jika tujuan Anda adalah membantu Google menemukan seluruh halaman website, sitemap tetap menjadi bagian penting dari strategi crawling dan indexing. Google merekomendasikan sitemap untuk cakupan seluruh situs.
Berapa Kuota Google Indexing API?
Berdasarkan dokumentasi Google saat ini, Indexing API menyediakan kuota default awal untuk onboarding dan pengujian, bukan kuota yang secara otomatis berarti website mendapatkan jatah penggunaan penuh untuk produksi.
Kuota default yang tercantum adalah:
- 200 request publish per hari per project, termasuk
URL_UPDATEDdanURL_DELETED. - 180 request metadata per menit per project untuk endpoint
getMetadata. - 380 request per menit per project untuk seluruh endpoint.
Kuota harian publish direset pada tengah malam waktu Pasifik.
Hal yang penting, 200 request per hari tersebut merupakan kuota awal untuk onboarding dan pengujian. Untuk penggunaan lebih lanjut dan penyediaan resource, Google mensyaratkan persetujuan tambahan.
Kuota tersebut juga bukan jumlah URL yang dijamin akan masuk indeks Google. Mengirim permintaan melalui Indexing API hanya memberi tahu Google mengenai perubahan pada URL.
Apakah Kuota Indexing API Bisa Ditambah?
Google menyediakan mekanisme untuk meminta kuota tambahan sekaligus persetujuan penggunaan API. Permintaan tersebut ditujukan untuk halaman yang memang memenuhi persyaratan JobPosting atau BroadcastEvent.
Google juga menyatakan bahwa kuota dapat bertambah atau berkurang berdasarkan kualitas dokumen. Oleh karena itu, mendapatkan kuota lebih besar bukan berarti pemilik website dapat menggunakan Indexing API untuk semua jenis URL.
Apa Risiko Penyalahgunaan Google Indexing API?
Risiko yang secara jelas disebutkan Google adalah pencabutan akses terhadap Indexing API.
Dokumentasi Google menyatakan bahwa seluruh pengiriman melalui Indexing API menjalani deteksi spam. Upaya menyalahgunakan API, termasuk menggunakan beberapa akun atau cara lain untuk melampaui kuota penggunaan, dapat menyebabkan akses API dicabut.
Beberapa hal yang perlu dihindari antara lain:
Menggunakan Banyak Akun untuk Melewati Kuota
Google secara eksplisit menyebut penggunaan beberapa akun untuk mengakali batas pengiriman sebagai sesuatu yang tidak boleh dilakukan.
Artinya, membuat atau menggunakan beberapa akun bukan solusi yang tepat untuk meningkatkan jumlah URL yang dapat dikirim melalui Indexing API.
Mengirim URL yang Tidak Sesuai
Indexing API bukan API indexing umum untuk semua halaman website.
Menggunakannya untuk mengirim artikel blog, halaman layanan, kategori, atau URL lain yang tidak memenuhi persyaratan dapat bertentangan dengan tujuan penggunaan API. Google membatasi Indexing API untuk halaman dengan JobPosting atau BroadcastEvent yang sesuai.
Mencoba Mengakali Batas API
Google juga melarang upaya untuk menghindari batas pengiriman. Bahkan ketika beberapa request digabungkan dalam satu batch, kuota tetap dihitung berdasarkan URL. Misalnya, 10 request yang dikirim dalam satu batch tetap dihitung sebagai 10 request.
Apakah Google Indexing API Bisa Membuat Website Banned?
Istilah “banned” perlu digunakan secara hati-hati.
Dokumentasi Google secara spesifik menyebut bahwa penyalahgunaan Indexing API dapat menyebabkan akses terhadap API dicabut. Hal tersebut tidak sama dengan pernyataan bahwa sebuah website otomatis dihapus dari seluruh Google Search hanya karena melakukan pelanggaran terhadap kuota API.
Di sisi lain, Google Search memiliki kebijakan spam tersendiri. Dalam pembaruan dokumentasi pada 25 September 2024, Google menjelaskan bahwa upaya mengakali kebijakan spam dapat menyebabkan peringkat situs turun atau situs tidak ditampilkan dalam hasil pencarian.
Karena itu, dua hal berikut perlu dibedakan:
Penyalahgunaan Indexing API → risiko akses API dicabut.
Pelanggaran kebijakan spam Google Search → dapat berdampak pada visibilitas website di hasil pencarian.
Keduanya sama-sama berkaitan dengan ekosistem Google Search, tetapi merupakan hal yang berbeda.
Mengapa Indexing API Tidak Disarankan untuk Semua Artikel?
Salah satu kesalahpahaman dalam SEO adalah menganggap Indexing API sebagai cara untuk membuat artikel baru langsung masuk Google.
Padahal, Google secara jelas membatasi API ini untuk halaman dengan JobPosting atau BroadcastEvent yang disematkan dalam VideoObject. Untuk cakupan website secara keseluruhan, Google tetap merekomendasikan sitemap.
Untuk website artikel, beberapa hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah:
- Sitemap XML tersedia dan dapat diakses Google.
- URL penting dapat ditemukan melalui internal linking.
- Halaman tidak diblokir secara tidak sengaja oleh
robots.txt. - Halaman menggunakan status HTTP yang sesuai.
- Konten memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengguna.
- Tidak terdapat masalah teknis yang menghambat crawling dan indexing.
Dengan demikian, Indexing API tidak perlu dijadikan satu-satunya strategi untuk membantu Google menemukan halaman website.
Indexing API vs Sitemap
Indexing API dan sitemap memiliki fungsi yang berbeda.
Indexing API digunakan untuk memberi tahu Google mengenai perubahan pada halaman yang memenuhi persyaratan API, terutama halaman lowongan pekerjaan dan livestream.
Sementara itu, sitemap membantu Google menemukan URL yang ingin dipertimbangkan untuk crawling dan indexing dalam cakupan website yang lebih luas.
Google menyarankan sitemap untuk cakupan seluruh website meskipun Indexing API digunakan untuk halaman yang memenuhi syarat.
Karena itu, pemilik website sebaiknya tidak mengganti sitemap dengan Indexing API hanya karena ingin mempercepat proses indexing.
Cara Menggunakan Indexing API dengan Lebih Aman
Penggunaan Indexing API sebaiknya dimulai dengan memahami persyaratan Google.
1. Pastikan Halaman Memenuhi Syarat
Periksa apakah halaman memang menggunakan JobPosting atau BroadcastEvent yang sesuai dengan persyaratan Google.
Jika halaman tidak termasuk kategori tersebut, jangan menggunakan Indexing API sebagai metode indexing untuk halaman tersebut.
2. Siapkan Project dan Service Account
Google mensyaratkan beberapa langkah teknis sebelum API dapat digunakan, termasuk membuat project, membuat service account, menambahkan service account sebagai pemilik situs, dan mendapatkan access token.
3. Minta Persetujuan dan Kuota
Kuota awal 200 request per hari ditujukan untuk onboarding dan pengujian. Penggunaan lebih lanjut membutuhkan persetujuan dan kuota tambahan dari Google.
4. Perhatikan Kuota
Pantau penggunaan API dan jangan mencoba melewati batas yang diberikan.
Penggunaan beberapa akun atau metode lain untuk menghindari batas pengiriman secara eksplisit disebut sebagai bentuk penyalahgunaan.
5. Tetap Gunakan Sitemap
Meskipun menggunakan Indexing API untuk halaman yang memenuhi syarat, sitemap tetap penting untuk membantu Google menemukan URL di seluruh website.
Apakah Indexing API Menjamin URL Masuk Google?
Tidak.
Indexing API digunakan untuk memberi tahu Google mengenai halaman baru, halaman yang diperbarui, atau halaman yang dihapus sehingga Google dapat menjadwalkan crawling. Pengiriman request bukan jaminan bahwa halaman akan langsung masuk indeks atau mendapatkan posisi tertentu di hasil pencarian.
Karena itu, penggunaan Indexing API tidak menggantikan kebutuhan terhadap SEO teknis, kualitas konten, struktur website, internal linking, dan kemampuan Googlebot untuk melakukan crawling.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari
Agar penggunaan Google Indexing API tidak menimbulkan masalah, beberapa kesalahan berikut sebaiknya dihindari:
- Menganggap Indexing API berlaku untuk semua URL.
- Mengirim artikel blog biasa tanpa memenuhi persyaratan API.
- Menggunakan banyak akun untuk melewati kuota.
- Mencoba mengakali batas request.
- Mengirim URL secara berulang tanpa kebutuhan yang jelas.
- Mengabaikan sitemap.
- Menganggap request API menjamin halaman masuk indeks.
- Menganggap pencabutan akses API sama dengan website langsung terkena banned Google Search.
Memahami perbedaan antara API access, crawling, indexing, dan ranking akan membantu pemilik website menggunakan Indexing API sesuai fungsi sebenarnya.
Perubahan Google Indexing API yang Perlu Dipantau
Pembaruan penting yang secara langsung berkaitan dengan Indexing API tercatat pada 4 September 2024 dan 11 September 2024. Pada 4 September, Google memperjelas fungsi kuota default untuk onboarding dan pengujian serta proses permintaan persetujuan dan kuota. Pada 11 September, Google memperjelas bahwa pengiriman melalui Indexing API tunduk pada deteksi spam dan bahwa upaya melampaui kuota dapat menyebabkan akses dicabut.
Selain itu, pada 25 September 2024, Google memperbarui penjelasan mengenai kebijakan spam Google Search. Google menjelaskan bahwa upaya mengakali kebijakan dapat menyebabkan peringkat turun atau halaman tidak ditampilkan dalam hasil pencarian.
Dengan demikian, tanggal September 2024 merupakan tanggal yang relevan untuk pembahasan perubahan aturan Indexing API dalam artikel ini. Sementara dokumentasi Google yang berlaku saat ini tetap perlu dipantau karena detail teknis, kuota, dan prosedur penggunaan API dapat diperbarui dari waktu ke waktu.
Poin Penting Update Google Indexing API
Beberapa hal utama yang perlu diperhatikan adalah:
- Indexing API bukan metode indexing untuk semua jenis halaman.
- API hanya dapat digunakan untuk halaman dengan
JobPostingatauBroadcastEventyang disematkan dalamVideoObject. - Pada 4 September 2024, Google memperjelas bahwa kuota default ditujukan untuk onboarding dan pengujian awal.
- Pada 11 September 2024, Google memperjelas bahwa pengiriman Indexing API tunduk pada deteksi spam.
- Kuota default awal mencakup 200 request publish per hari per project.
- Mencoba melewati kuota dapat menyebabkan akses Indexing API dicabut.
- Pencabutan akses API tidak sama dengan website otomatis terkena banned dari Google Search.
- Pelanggaran kebijakan spam Google Search dapat berdampak pada visibilitas website.
- Sitemap tetap direkomendasikan untuk mencakup seluruh website.
- Indexing API tidak menjamin URL langsung masuk indeks Google.
