Social Media & Iklan Digital

Algoritma Reels 2026: Share ke DM Kalahkan Jumlah Like?

–

Algoritma Reels 2026: Share ke DM Kalahkan Jumlah Like?

Pernah melihat sebuah Instagram Reels dengan jumlah like biasa saja, tetapi views-nya terus bertambah hingga ratusan ribu? Sebaliknya, ada juga konten dengan cukup banyak like yang kemudian berhenti mendapatkan jangkauan baru.

Fenomena tersebut menunjukkan satu hal penting: jumlah like bukan satu-satunya ukuran yang menentukan distribusi Reels.

Instagram menggunakan berbagai sinyal untuk memahami apakah sebuah video menarik dan relevan bagi pengguna. Watch time, interaksi, aktivitas pengguna, serta tindakan membagikan konten kepada orang lain dapat ikut memberikan informasi mengenai kualitas dan relevansi sebuah Reels.

Salah satu metrik yang semakin banyak diperhatikan kreator adalah send/share, terutama ketika seseorang mengirim Reels kepada temannya melalui Direct Message (DM).

Lantas, apakah share ke DM benar-benar lebih penting daripada like pada algoritma Reels 2026?

Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu. Mari kita bahas cara kerjanya.

Bagaimana Algoritma Instagram Reels Bekerja?

Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa Instagram tidak menggunakan formula sederhana seperti:

100 Like + 50 Share = Viral

Sistem rekomendasi menggunakan banyak informasi untuk memperkirakan konten apa yang kemungkinan menarik bagi setiap pengguna.

Karena itu, dua orang dapat membuka Instagram pada waktu yang sama tetapi mendapatkan rekomendasi Reels yang sangat berbeda.

Misalnya pengguna A sering menonton konten teknologi sampai selesai dan berinteraksi dengan konten sejenis.

Sementara pengguna B lebih sering melihat konten olahraga.

Instagram dapat mempelajari pola tersebut untuk menentukan konten yang relevan bagi masing-masing pengguna.

Artinya, tujuan algoritma bukan sekadar mencari video dengan like terbanyak.

Tujuannya adalah mencocokkan konten dengan orang yang kemungkinan tertarik terhadap konten tersebut.


Like Banyak Belum Tentu Reels Viral

Like merupakan salah satu bentuk engagement paling mudah.

Pengguna melihat video menarik, kemudian mengetuk ikon hati.

Namun tindakan tersebut membutuhkan usaha yang sangat kecil.

Bandingkan dengan kondisi ketika seseorang melihat sebuah Reels lalu berpikir:

“Temanku harus lihat video ini.”

Pengguna kemudian menekan tombol share, memilih seseorang, lalu mengirimkannya melalui DM.

Ada niat yang lebih kuat di balik tindakan tersebut.

Inilah salah satu alasan send/share menjadi metrik yang menarik untuk diperhatikan.

Namun bukan berarti satu share mempunyai bobot tertentu yang secara resmi setara dengan sekian like.

Instagram tidak memberikan formula publik seperti:

1 Share = 10 Likes.

Karena itu, klaim seperti “100 share pasti lebih bagus daripada 1.000 likes” terlalu sederhana.

Kenapa Share ke DM Sangat Penting?

Share dapat menunjukkan bahwa konten tidak hanya menarik untuk ditonton sendiri, tetapi juga cukup bernilai untuk diberikan kepada orang lain.

Bayangkan ada dua Reels.

Reels A

Video pemandangan yang sangat bagus.

Pengguna melihatnya kemudian:

“Bagus banget.” → Like

Reels B

Video berisi tips sederhana yang sangat relevan.

Pengguna melihat kemudian:

“Wah, temanku lagi butuh ini.” → Send

Konten kedua mempunyai karakteristik yang disebut shareable content.

Hal serupa terjadi pada meme.

Ketika menemukan meme yang sangat relate dengan teman sekolah atau teman kerja, respons pertama seseorang mungkin bukan sekadar memberikan like.

Ia justru ingin mengirim:

“Ini kamu banget 😂”

Dari sudut pandang distribusi, perilaku tersebut memberi sinyal yang berbeda dibanding sekadar scrolling dan memberi like.

Shareable vs Likeable Content

Konsep ini penting untuk strategi Reels.

Likeable content adalah konten yang cukup menarik sehingga orang memberikan like.

Sedangkan shareable content membuat pengguna merasa ada orang lain yang perlu melihatnya.

Contohnya:

LikeableShareable
Video estetikTips praktis
Foto/pemandangan bagusTutorial singkat
Video satisfyingMeme yang relate
Quotes menarikInformasi yang berguna
Editing kerenChecklist yang bisa dipakai
Konten hiburanCerita yang mengingatkan pada teman

Konten terbaik tentu bisa mendapatkan keduanya.

Pengguna menyukai videonya dan membagikannya.

Karena itu, kreator tidak perlu berhenti mengejar like. Yang perlu berubah adalah cara memandang engagement.

Jangan hanya bertanya:

“Apakah orang akan menyukai video ini?”

Coba tambahkan:

“Apakah ada alasan seseorang ingin mengirim video ini kepada orang lain?”

Watch Time Tetap Sangat Penting

Share bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.

Sebelum seseorang memberikan like, comment, save, atau share, biasanya ada satu hal yang harus terjadi terlebih dahulu:

Mereka menonton videonya.

Karena itu, watch time menjadi metrik penting untuk mengevaluasi Reels.

Misalnya ada video berdurasi 20 detik.

Reels A

Rata-rata pengguna menonton 3 detik.

Reels B

Rata-rata pengguna menonton 17 detik.

Keduanya mungkin memiliki jumlah views yang sama, tetapi perilaku penontonnya sangat berbeda.

Reels B berhasil mempertahankan perhatian lebih lama.

Inilah alasan kreator sebaiknya tidak hanya melihat views.

Views menjawab:

“Berapa kali konten dilihat?”

Watch time membantu menjawab:

“Seberapa lama orang benar-benar menontonnya?”

Hook 3 Detik Pertama Masih Penting?

Istilah “3 detik pertama” sering digunakan dalam strategi video pendek.

Namun jangan menganggap tiga detik sebagai angka ajaib algoritma.

Prinsip yang lebih penting adalah:

Bagian awal video harus segera memberikan alasan kepada pengguna untuk terus menonton.

Bayangkan pengguna sedang scrolling.

Mereka melihat puluhan video dalam waktu singkat.

Jika pembukaan terlalu panjang seperti:

“Halo semuanya, balik lagi bersama aku. Jadi pada kesempatan kali ini aku akan memberikan informasi mengenai….”

Pengguna mungkin sudah berpindah sebelum isi utama dimulai.

Bandingkan dengan:

“Website kamu lambat? Coba cek tiga hal ini dulu.”

Penonton langsung mengetahui manfaat video.

Hook yang bagus dapat berbentuk pertanyaan, masalah, hasil, fakta menarik, atau preview dari sesuatu yang akan dijelaskan.

Retention: Apakah Orang Bertahan Menonton?

Selain total watch time, kreator juga perlu memahami konsep retention.

Retention menggambarkan kemampuan video mempertahankan perhatian penonton sepanjang durasinya.

Misalnya video berdurasi 30 detik.

Jika banyak orang pergi pada detik ketiga, berarti ada sesuatu pada pembukaan yang kurang menarik atau ekspektasi penonton tidak terpenuhi.

Sebaliknya, jika banyak penonton bertahan sampai bagian akhir, struktur videonya kemungkinan bekerja lebih baik.

Retention bisa dipengaruhi oleh:

  • opening;
  • pacing;
  • editing;
  • storytelling;
  • kualitas audio;
  • subtitle;
  • relevansi topik;
  • panjang video;
  • dan seberapa cepat informasi diberikan.

Karena itu, meningkatkan retention bukan sekadar memotong video menjadi lebih pendek.

Video harus memberikan alasan untuk terus menonton.

Bagaimana dengan Rewatch?

Ada juga konten yang membuat pengguna menonton kembali.

Contohnya tutorial singkat.

Pengguna melihat:

Langkah 1 → Langkah 2 → Langkah 3

Kemudian mereka mengulang video karena ingin memastikan langkah kedua.

Hal serupa bisa terjadi pada video dengan informasi padat, transisi menarik, humor, atau detail yang sulit ditangkap dalam sekali lihat.

Rewatch dapat menjadi indikasi bahwa pengguna menghabiskan lebih banyak waktu pada konten tersebut.

Namun jangan sengaja membuat informasi sulit dibaca hanya supaya pengguna terpaksa mengulang.

Strategi tersebut dapat merusak pengalaman pengguna.

Konten yang baik membuat orang ingin menonton ulang karena bernilai, bukan karena sengaja membingungkan.

Like, Comment, Save, dan Share Punya Fungsi Berbeda

Tidak semua engagement menunjukkan perilaku yang sama.

Like

Menunjukkan pengguna memberikan respons positif terhadap konten.

Comment

Menunjukkan konten berhasil memicu respons atau percakapan.

Save

Sering muncul ketika pengguna merasa konten perlu dilihat kembali.

Tutorial, resep, checklist, rekomendasi, dan konten edukasi sering mempunyai alasan kuat untuk disimpan.

Share/Send

Menunjukkan pengguna merasa konten layak diberikan kepada orang lain.

Karena itu, jangan hanya melihat angka engagement secara keseluruhan.

Coba pahami alasan pengguna melakukan setiap tindakan tersebut.

Contoh: Reels A vs Reels B

Bayangkan dua video masing-masing mendapatkan 10.000 views.

MetrikReels AReels B
Views10.00010.000
Likes1.200650
Comments3090
Saves40300
Shares25500

Jika hanya melihat likes, Reels A terlihat jauh lebih sukses.

Tetapi Reels B mempunyai lebih banyak comments, saves, dan shares.

Apakah ini berarti Reels B pasti akan mendapatkan distribusi lebih luas?

Tidak.

Kita masih belum mengetahui watch time, retention, karakter audiens, relevansi konten, dan sinyal lain yang digunakan sistem rekomendasi.

Namun contoh tersebut memperlihatkan mengapa mengukur keberhasilan Reels hanya berdasarkan like dapat menyesatkan.

Cara Membuat Reels yang Layak Dikirim ke DM

Daripada meminta pengguna:

“Share ya!”

lebih baik membuat konten yang secara natural mempunyai alasan untuk dibagikan.

Salah satunya adalah konten relatable.

Misalnya:

“Ketika teman bilang cuma mau lihat-lihat, tapi lima menit kemudian checkout.”

Orang yang mempunyai teman dengan kebiasaan tersebut mungkin langsung mengirim videonya.

Jenis lainnya adalah konten praktis.

Misalnya:

“3 setting HP yang perlu dicek sebelum merekam video.”

Orang dapat mengirimkannya kepada teman yang sedang belajar membuat konten.

Konten rekomendasi juga memiliki potensi serupa:

“3 website gratis yang membantu belajar desain.”

Pengguna mungkin mengirimkannya kepada teman yang sedang belajar desain.

Prinsipnya adalah menciptakan momen:

“Aku tahu siapa yang perlu melihat ini.”

Original Content Tetap Penting

Strategi Reels sebaiknya tidak berhenti pada mengejar tren.

Tren audio, format, atau meme dapat membantu menemukan ide, tetapi akun tetap membutuhkan identitas.

Jika seluruh konten hanya mengambil ulang video orang lain, pengguna tidak memiliki alasan kuat untuk mengikuti akun tersebut.

Originalitas tidak selalu berarti menemukan konsep yang belum pernah ada di internet.

Kreator dapat membahas topik yang sama dengan:

  • pengalaman sendiri;
  • sudut pandang berbeda;
  • contoh lokal;
  • storytelling sendiri;
  • visual sendiri;
  • atau penjelasan yang lebih mudah dipahami.

Tren bisa menjadi kendaraan.

Nilai tambah kreator tetap menjadi isinya.

Jangan Membuat Engagement Bait Berlebihan

Ada perbedaan antara mengajak interaksi dengan membuat engagement bait.

Ajakan seperti:

“Kamu tim A atau B?”

masih dapat terasa natural jika memang berkaitan dengan pembahasan.

Tetapi jika setiap video selalu berakhir:

“LIKE! COMMENT! SHARE! SAVE! TAG 10 TEMAN!”

pengalaman pengguna justru bisa terganggu.

CTA sebaiknya sesuai dengan tujuan konten.

Tutorial dapat mengingatkan pengguna untuk menyimpan.

Konten diskusi dapat meminta pendapat.

Konten relatable bahkan sering tidak membutuhkan CTA karena pengguna secara natural ingin membagikannya.

Jangan Terlalu Terobsesi dengan Views

Views memang mudah menarik perhatian.

1 juta views terlihat lebih mengesankan daripada 10.000 views.

Namun untuk akun bisnis, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah views tersebut menghasilkan sesuatu.

Misalnya:

Reels A:
500.000 views → 50 kunjungan profil.

Reels B:
50.000 views → 2.000 kunjungan profil → 500 follower baru.

Secara bisnis, Reels B bisa jauh lebih bernilai.

Karena itu, metrik perlu disesuaikan dengan tujuan.

Untuk awareness, reach dan views dapat menjadi penting.

Untuk pertumbuhan akun, perhatikan follower dan profile activity.

Untuk penjualan, lihat perjalanan pengguna menuju website, lead, atau conversion.

Cara Membaca Insights Reels dengan Lebih Benar

Ketika sebuah Reels memiliki performa bagus atau buruk, jangan langsung menyimpulkan penyebabnya dari satu angka.

Perhatikan beberapa metrik secara bersamaan.

Misalnya:

Views tinggi + watch time rendah

Hook mungkin menarik, tetapi isi tidak mampu mempertahankan perhatian.

Views sedang + shares tinggi

Konten mungkin sangat relevan untuk kelompok audiens tertentu.

Saves tinggi

Konten kemungkinan mempunyai nilai referensi.

Comments tinggi

Topik berhasil memancing percakapan.

Profile visits tinggi

Konten membuat orang penasaran terhadap kreatornya.

Analisis seperti ini lebih berguna daripada sekadar:

“Video ini cuma dapat 500 likes.”

Kesalahan yang Membuat Reels Sulit Berkembang

Kesalahan pertama adalah pembukaan terlalu panjang. Pengguna belum mengetahui manfaat video, tetapi sudah diminta menunggu.

Kedua, tidak ada fokus. Satu Reels mencoba membahas lima topik sekaligus.

Ketiga, mengejar like tetapi mengabaikan nilai konten.

Keempat, mengikuti tren yang tidak relevan dengan audiens akun.

Kelima, tidak pernah membaca Insights.

Dan terakhir, terlalu cepat mengambil kesimpulan dari satu video.

Performa konten dipengaruhi banyak variabel. Lebih baik membandingkan beberapa Reels untuk menemukan pola yang konsisten.

Jadi, Share ke DM Benar-Benar Mengalahkan Like?

Judul “share mengalahkan like” sebaiknya dipahami sebagai perubahan cara kreator melihat engagement, bukan formula matematis algoritma Instagram.

Like masih berguna.

Comment masih berguna.

Save masih berguna.

Watch time masih penting.

Share/send juga menjadi sinyal yang sangat menarik karena menunjukkan bahwa pengguna merasa konten cukup relevan untuk diberikan kepada orang lain.

Tidak ada dasar yang cukup untuk mengatakan:

“1 share selalu lebih bernilai daripada X likes.”

Algoritma rekomendasi jauh lebih kompleks dan terus berkembang.

Strategi yang lebih aman adalah mengoptimalkan pengalaman pengguna secara keseluruhan:

Hook → Watch → Retention → Value → Interaction → Share

Bukan mengejar satu angka saja.

Algoritma Reels 2026 tidak bisa dipahami hanya dari jumlah like. Sistem rekomendasi menggunakan berbagai sinyal untuk menentukan konten yang relevan bagi pengguna.

Bagi kreator, salah satu perubahan pola pikir yang paling berguna adalah berhenti membuat konten yang sekadar likeable dan mulai memikirkan bagaimana membuatnya lebih shareable.

Konten yang relatable, praktis, menghibur, atau memberikan informasi berguna mempunyai alasan natural untuk dikirim melalui DM.

Namun share bukan satu-satunya kunci.

Watch time, retention, likes, comments, saves, relevansi audiens, dan kualitas konten tetap perlu diperhatikan secara bersamaan.

Jadi, daripada bertanya:

“Berapa like supaya Reels viral?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Apakah orang mau menonton sampai selesai, mendapatkan sesuatu dari video ini, lalu merasa temannya juga perlu melihatnya?”

Jika jawabannya iya, Reels tersebut sudah memiliki fondasi yang jauh lebih kuat untuk berkembang.

Facebook
Twitter
LinkedIn